Tuesday, December 27, 2016

Dilema Keluarga Besar


Keluarga lintas generasi

Memiliki keluaga besar itu, menurutku, lebih banyak gak enaknya daripada enaknya. Masa-masa menyenangkan di keluarga besar itu hanyalah ketika kamu masih seorang bocah ingusan yang tidak tau apa-apa. Setiap keluarga besar ngumpul, kamu dapat dua kebahagiaan. Pertama, kamu bisa bertemu dengan saudara sepupu, yang bahkan kamu gak tau udah dilahirkan ke dunia ini, dan bermain bareng mereka. 

Di saat seperti inilah kamu dapat sebuah bonus besar dari orangtua yang disebut “Izin Begadang”. Yup, kamu bebas bermain semalam suntuk dengan sepupumu, dengan catatan orang dewasa belum tidur. Kalo orang dewasa udah tidur, kamu harus tahu diri untuk ikut tidur juga.

Kebahagiaan yang kedua adalah kamu menerima uang jajan. Dengan berkumpulnya keluarga besar, ada aturan tidak tertulis bahwa anak kecil seperti kamu akan segera menjadi saudagar. Apalagi kalo hari raya, tuh. Kantongmu bakal penuh dengan uang yang oleh pamanmu disebut sebagai “Uang beli permen”. Sialnya, begitu mereka semua pulang, uang-uang tersebut akan segera disedot ke kantong orangtuamu. Katanya sih untuk ditabung. Katanya.

Duitnya ditabung ya, Dek


Nah, cuma dua kebahagiaan itulah yang kamu dapatkan dari keluarga besar. Semakin kamu besar, kamu akan menyadari kalau mempunyai keluarga besar itu nyebelin banget. Kebahagiaan pertama, yaitu begadang gak akan lagi kamu rasakan sebagai kebahagiaan. Reuni dengan kasur adalah hal yang kamu nantikan ketika udah gede. Yang kedua, yaitu dapat uang jajan. Ini udah gak berlaku lagi, karena kamulah yang sekarang memberikan uang jajan untuk sepupumu yang masih bocah. Pulang-pulang, kamu malah lebih miskin daripada anak kecil.

Semakin kamu besar juga, kamu akan menyadari kalau keluarga besar tuh suka banget ikut campur dengan kehidupanmu. Rasanya tenggorokan mereka bakal diserang semut rang-rang kalo gak mengomentari tentang hidupmu. Sok-sok memberi nasihat tentang hidup, yang mereka sendiri belum tentu lakuin. Kalo selera humormu bagus, kamu mungkin bisa menertawai kemunafikan yang terjadi di keluarga besar.

Dan ini yang ku alami.

Paman dan tanteku itu selalu menceramahiku dengan susahnya hidup mereka dulu, mengenai gaya hidupku yang dianggap jorok, mengenai pemikiranku yang dianggap gak kreatif, dan juga mengenai pilihan-pilihan hidupku. Padahal, mereka sendiri gak pernah mengatakan hal yang sama kepada anak mereka. Dan kelakuan anaknya malah lebih berantakan daripada hidupku. Anak mereka selalu dimanja (entah kemana semua ocehan mengenai kesusahan hidup tadi), gak pernah dipertanyakan tujuan hidupnya, dan dibiarkan saja ketika tidak hormat kepada orangtua. Ironis banget kan.

Mereka sanggup menasehatiku dengan berbagai kalimat pedas yang bikin kuping panas, tapi gak sanggup menasehati anak mereka sendiri.

Tapi, yang paling parah dari semua itu adalah, mereka berusaha menentukan tujuan hidupku. Mereka ingin memilih pilihan-pilihan hidup yang akan kujalani. Mungkin, karena mereka gak bisa mengatur anak mereka, mereka mengalihkannya kepadaku. Mereka mencerca pilihan yang kuambil dalam hidup, menjatuhkan mentalku, dan seperti biasa memberi pilihan yang menurut mereka lebih masuk akal.

Jujur, aku udah muak dengan semua ini. Ingin rasanya hidup menjauh dari mereka semua. Aku ingin memulai hidup baru. Hidup yang kujalani dengan pilihan-pilihanku sendiri. Kalaupun nanti pilihan itu membawaku ke dalam keterpurukan hidup. Tidak masalah. Bagiku, lebih baik menyesali hidup yang sengsara karena keputusanku sendiri, daripada menjalani hidup karena keputusan orang lain. Aku ingin mengisi hidup dengan berbagai pengalaman yang bisa kunikmati suka dan dukanya.

Om Deddy Corbuzier pernah bilang, “Belajar dari pengalaman sendiri, rasanya seperti menelan pil pahit. Karena itu, belajarlah dari pengalaman orang lain.”

Tapi, menurutku, kita gak akan bisa seutuhnya belajar dari pengalaman orang lain. Semua orang sukses itu pengalamannya beda-beda. Meskipun mereka menceritakan resep kesuksesan mereka dan kamu praktekkan mati-matian. Kamu tetap aja gak akan bisa menjalani hidup seperti mereka. Kamu gak akan bisa terhindar dari kegagalan meskipun sudah belajar dari semua pengalaman hidup mereka sampai ke yang paling detil. Kita harus membuat formula sukses kita sendiri. Kita harus gagal, supaya mengenal yang namanya berhasil.

Karena itulah, mulai sekarang aku akan menyuarakan keinginan dan pendapatku, meskipun ditentang oleh keluarga. Aku udah capek mengikuti semua kemauan mereka, dan mencincang keinginanku sendiri. Bukan berarti aku tidak menghormati mereka. Aku tetap menghormati mereka sebagai anggota keluarga yang lebih tua. Tapi, itu bukan berarti mereka memiliki hak penuh untuk mengatur hidupku.

Aku

Ingin

Bebas

Seperti

Binatang

Jalang



Hmmm..kalau kamu gimana? Pernah merasakan hal kayak gini juga gak? Cerita-cerita yuk di kolom komentar.

Salam Asal.

Lanjut Baca Terus >>>