Friday, February 27, 2015

Perangkap Alfabet



Delusi !
Aku berdelusi !
Mulut Pak Tua itu mengeluarkan ribuan alfabet
Tumpah ruah bagai banjir besar di jaman Nuh

Aku megap-megap
Berusaha bernapas
Sial !
Mereka terlalu kuat
Mereka berhasil menyusup
Melumpuhkan para penjaga
Lalu mengendap-endap menuju gendang telinga

Sial lagi !
Mereka berhasil menguasai Si Pengawas
Mengikatnya di tiang penjaga
Pusat komando riuh
Kapal mulai oyong
Melakukan headbang kesana-kemari

Aku tak tahan lagi
Aku menyerah
Mataku tertutup sempurna
Bibirku menggumamkan mantra kuno

Dengkur

Zziinggg.....
Sebilah spidol melesat
Membelah udara dengan kecepatan tinggi

Pletak !
Aku tersentak
Wajah Pak Tua merah padam
“Arman ! Sekali lagi kamu tertidur di mata kuliah saya. Kamu akan menyesal seumur hidup.”


#memfiksikan udah memasuki minggu ke-6. Kali ini aku yang nentuin tema. Karena minggu ini adalah minggu-minggu sibuk, aku capek banget. Jadi aku memilih tema “tidur”.

Di beberapa mata kuliah, aku kadang tertidur. Entah mengapa. Tapi sehabis kuliah, langsung seger lagi. Entah mengapa juga. Tanya aja sama kolor yang bergoyang.

Aku gak tau apa jenis fiksi ini. Aku hanya iseng menggabungkan cerpen dan puisi. Kritik dan saran sangat diharapkan.

Ada yang pernah tertidur juga ketika mendengarkan dosen ceramah? Cerita dong di kolom komentar.

Sekian untuk hari ini.


Salam Asal.
Lanjut Baca Terus >>>

[Movie Review] Dragon Blade



Aku masih tak menyangka, di usia yang udah tidak bisa dibilang muda lagi, Jackie Chan masih membintangi film laga. Di saat orang seusianya udah pengen santai menikmati hidup, dia masih terus berkarya. Di saat yang lain bermasalah dengan osteoporosis, dia malah berantem. Keren !

Dragon Blade bercerita tentang sekelompok orang yang sedang melakukan ekspedisi untuk mencari benteng yang hilang. Benteng yang sangat legendaris. Dua orang dari mereka berhasil menemukannya. Mereka melakukan visualisasi bentuk reruntuhan berdasarkan bentuk sebenarnya. Setelah itu, alur cerita pun mundur ke belakang.

Cerita berlanjut di masa lalu ketika Jackie Chan yang menjadi ketua kelompok penjaga perdamaian di Jalur Sutra, berusaha mendamaikan dua suku yang akan bertarung. Jalur sutra ini adalah jalur perdagangan yang menghubungkan kerajaan-kerajaan barat dengan kerajaan di timur. Di film sih, katanya ada 36 bangsa yang mendiami sekitar Jalur Sutra.

Pertarungan dimulai.

Seorang dari suku White Indian memacu kudanya. Merangsek maju. Menyerang pemimpin suku Han. Tapi, White Indian kalah sebelum dia sempat menyentuh pemimpin suku Han. Dikalahkan oleh burung. Mungkin karena dia belum minum White Koffee. Kopi Luwak tidak bikin kembung. *Loh, ini kok malah promosi.*

Jackie pun turung tangan mendamaikan mereka tanpa kekerasaan. Hanya modal ngomong doang. Dengan sikap hormat ke masing-masing pemimpin suku. Memang sih dia berantem dengan seorang wanita bercadar dari suku Han.  Bukan berantem juga sih. Dia lebih ke mempertahankan diri. Dan tidak sengaja membuka cadar wanita tersebut.

Bukan hukuman yang dia dapat. Di istana wanita tersebut, wanita bercadar tadi malah menanggalkan pakaian dan....

*jeng jeng*
Apa yang terjadi? Nonton makanya.

Kebahagiaan tidak berlangsung lama. Jackie dikhianati oleh seseorang. Jackie dan kelompok penjaga perdamaian akhirnya dihukum karena dituduh menyelundupkan emas. Mereka dikirimkan ke Gerbang Angsa untuk membantu pembangunan gerbang tersebut. Namanya doang sih gerbang, aslinya kayak benteng yang luas banget. Dan disitu terdapat berbagai suku yang sedang menjalani hukuman.

Awal konflik adalah ketika bangsa Romawi berniat menguasai banteng tersebut. Pertarungan pun tak terhindarkan. Awalnya sih aku pikir semua pasukan bakal bertempur. Ternyata yang bertarung hanyalah Huo An (Jackie Chan) dan Lucius (John Cusack). Pertarungan yang malah menjadi awal persahabatan mereka.

Jackie masih mempertahankan gaya bertarungnya dengan ciri khas komedi. Apalagi pas dia bertarung dengan wanita bercadar dari suku Han. Bikin ngakak. Hal inilah yang membedakan dia dengan aktor laga lainnya. Tapi, di beberapa adegan pertarungan, gaya komedinya hilang. Berganti dengan seni beladiri yang membuat mulut berdecak kagum.

Di film ini juga ada adegan ketika Jackie dan “kelompok timur”bernyanyi dengan bahasa mandarin. Lagu yang gembira. Kemudian dibalas dengan sebuah anthem kebangsaan bangsa Romawi, mewakili “kelompok barat”. Sekilas aku merasa seperti mendengar lagu anthem Liga Champions. Mereka bernyanyi tanpa diiringi alat musik. Tapi bisa membuat merinding. Rasa nasionalisme mereka keluar dengan dahsyat ketika menyanyikan lagu tersebut. Bahkan beberapa di antara prajurit Romawi menangis. Lumayan bikin haru.

Yang membuat bikin haru juga adalah ketika prajurit Romawi dan penghuni Gerbang Angsa, bahu-membahu menyelesaikan pembangunan gerbang. Mengajarkan arti persahabatan.

Ketika konflik semakin memuncak, ditampilkanlah laga kolosal yang benar-benar bikin susah bernapas. Pertarungan antara bangsa Romawi dengan jumlah prajurit ratusan ribu, melawan 5 suku yang mendiami wilayah Jalur Sutra. Mengapa bangsa Romawi malah bertarung dengan suku-suku di wilayah Jalur Sutra? Makanya nonton. Biar gak penasaran.

Oh ya. Akting Adrien Broody sebagai Tiberius, wajib diacungi jempol. Benar-benar keren. Perilakunya yang kejam dan tak kenal ampun, dibalut secara sempurna dengan ketenangan emosi dan tatapan mata sendu. Cewek kalau ditatap gitu pasti hidungnya langsung insomnia. 

Yang kurang aku sukai adalah ketika Jackie berpidato ke penghuni Gerbang Angsa. Karena dia nyerocos dalam bahasa mandarin, rada bosen dengernya. Kalimat motivasi gitu deh. Kalau dibawa ke versi Indonesia, mungkin kayak motivator yang membangkitkan kesedihan peserta dengan memutar lagu sedih dan mendayu-dayu. Lalu mengingatkan kebaikan orangtua kita, rasa capek mereka di ladang, lalu kita cuma menikmati aja tanpa bersyukur. Kita malah sering membentak mereka. Kemudian peserta nangis. Antara nangis beneran atau pencitraan doang. Pernah ngalamin motivasi jenis ini gak?

Satu lagi yang bikin aku iri dengan Jackie Chan adalah yang jadi pacar atau istrinya di film pasti cantik-cantik banget. Dia udah kayak James Bond versi China. Di film ini dia punya istri yang muda banget. Malah lebih cocok jadi adik daripada istri. Para jomblo iri dengan sukses.

Hal lain yang kurang sreg, Jackie kayak Dewa Perang. Dia udah kena panah di punggung dan kaki, kena tombak di lambung. Tapi, masih bisa bertarung dengan jago. Dan kamu masih sedih karena masih jomblo? Malu tuh sama Jackie.

Untuk film ini, aku ngasih rating 4.00/5.00.

Btw, ini adalah pertama kali aku bikin review tentang film. Semoga tidak mengecewakan. Kuharap juga bisa terus membuat review yang lebih baik.

Sekian movie review hari ini. Buat yang udah nonton, yuk ceritain bagian mana yang kamu suka dari film ini. Yang belum nonton, gih sana beli tiket bioskop. Trus nonton. Gak usah ajak pasangan. Sendiri aja. #JombloCariKawan.
Salam Asal.


Lanjut Baca Terus >>>

Friday, February 20, 2015

[Cerpen] Patok Kayu Misterius



“Gimana persiapannya untuk berkemah besok, Nak? Udah dikepak semua perlengkapannya?”

Ayah tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu. Hana yang tidak menyadari kehadiran Ayahnya, nyaris memekik karena kaget.

“Ih, Ayah. Ngagetin aja. Udah semua kok, Yah. Eh, belum ding. Patok kayu tendanya belum ada. Nanti deh Hana cari ke hutan dekat gunung itu.”

“Emang kamu berani sendirian?” Ayah tersenyum jahil. “Denger-denger disitu ada...”

“Aaaaa. Stop..stop... Gak denger..gak denger.. yee..yee..” Hana menutup kuping.

Ayah tergelak. Dia mengacak rambut anaknya pelan. “Mau Ayah temenin, gak?”

Hana memasang muka cemberut. “Gak deh. Hana bisa sendiri kok.”

“Ciee. Putri Ayah merajuk.”

“Biarin aja. Ayah sih usil.”

Ayah hanya tersenyum. Memencet hidung, lalu mengecup kening Hana pelan.

“Nanti kalau udah selesai mengepak, makan siang dulu, ya.”

Hana mengangguk dan melanjutkan mengepak barang.

***

Peluh mulai mengucur di pelipis Hana. Susah amat sih nyari patok kayu doang. Mana udah mau maghrib lagi, batinnya. Hana memutuskan untuk berjalan sedikit ke dalam hutan lagi. Kalau nggak dapat, Hana akan pulang. Tangannya sudah bentol-bentol digigit nyamuk.

Beberapa langkah berjalan, ada sebuah rumah kecil dari bambu. Seorang kakek terlihat sedang mengumpulkan kayu bakar, sementara si nenek sedang menyapu halaman. Di sini memang banyak warga yang tinggal di dalam hutan. Coba nanya, ah.

“Assalamualaikum, Kakek. Nenek.”

“Waalaikumsalam, Cu.”

“Hehe. Maaf mengganggu nih, Kek. Nama saya Hana. Mau nanya, kira-kira Kakek ada patok kayu yang udah gak dipake, gak?”

Kakek memandang Nenek. “Ada kok, Cu. Itu di samping rumah. Kamu ambil sendiri, ya.” Ada perasaan aneh ketika Hana melihat senyum kakek tersebut. Tapi dia menepisnya.

Hana berjalan menuju samping rumah Kakek. Sebuah patok kayu tersandar disitu. Dia segera mengambilnya. Tiba-tiba, sekelebat udara dingin menerpa wajahnya. Hana memegang tengkuknya. Merinding.

“Terima kasih ya, Kek. Nek.”

“Sama-sama, Cu. Kamu gak mau masuk dulu? Minum teh manis,” ajak si Nenek.

Hana melirik jam dengan gelisah.

“Engg... makasih, Nek. Mungkin lain kali. Makasih patok kayunya, Nek. 

Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.” Mereka menjawab berbarengan.

Hana segera memacu langkah untuk pulang.

***
“Ayah!! Bunda!!”

Hana mengerang lirih. Untunglah kamarnya dengan ruang tamu tidak terlalu jauh. Bunda tergopoh-gopoh menghampiri Hana.

“Kenapa kamu, Nak.” Bunda menyentuh dahi Hana. “Astagfirullah. Demammu tinggi sekali.” Bunda berlari ke luar kamar dengan panik. “Ayah! Ayah! Nyalakan mobil. Hana demam tinggi.”

Ayah tanpa banyak tanya langsung menstarter mobil, dan membopong Hana ke dalam mobil. Mobil segera melaju ke rumah sakit terdekat.

***

Hana cuma berada sehari di rumah sakit. Besoknya, demamnya sudah hilang. Ayah dan Bunda menjabat tangan dokter dengan perasaan senang. Mereka pun pulang ke rumah.

Namun, di rumah kelakuannya mulai aneh. Hana selalu marah-marah kalau ada orang yang lagi ngaji. Bahkan, dia pernah melabrak seorang ustadz yang membacakan ayat-ayat suci kepadanya. Bayangkan, seorang anak kecil yang dulunya manis, berubah drastis.

“Sepertinya anak ibu telah kemasukan jin penunggu hutan,” ujar ustadz tersebut.

Makanan Hana sekarang berupa telur mentah. Kadang diselingi dengan kopi dan rokok. Ayah dan Bunda semakin frustrasi. Tiap malam mereka bersujud kepada Allah. Meminta agar anaknya kembali normal. Sujud yang bercampur isak tangis.

***

“Ayah....Ayah... Hana tidak ada di kamarnya.” Ibu menjerit histeris. “Ayah!!!”

Ayah yang mendengar jeritan Bunda langsung berlari ke kamar Hana. Mengecek keadaan. Mengacak-acak lemari. Memeriksa kolong tempat tidur. Nihil. Ayah segera mencari ke luar dibantu oleh tetangga sekitar.

Jam 9 malam mereka kembali. Menyerah. Hana tidak ada dimana-mana.

Ayah terduduk lesu di bawah pohon mangga di halaman rumah. “Dimana kamu, Nak?”

Ayah mengerjapkan mata. Berusaha menahan tangis. “Ya Allah. Beri petunjuk-Mu.”

Ayah menengadah ke atas.

“Astagfirullah. Hanaaa. Ya Allah. Hana. Sedang apa kamu di atas situ, Nak.”
Hana duduk di batang pohon mangga tersebut sambil menyisiri rambutnya. Tembang sinden jawa mengalun dari bibir mungilnya.

Dibantu warga, Hana pun dibawa kembali ke dalam rumah. Wajahnya pucat pasi. Tak ada ekspresi. Dia hanya terus menyisir rambutnya. Ayah menenangkan Bunda yang menangis tanpa henti. “Cobaan apa yang sedang Kau beri, ya Allah,” Bunda memukul-mukul tembok. Membuat ngilu hati siapa saja yang melihatnya.

***

Esoknya, 10 orang kyai duduk mengelilingi Hana. Bunda menggenggam erat tangan Ayah. Ayah tersenyum menguatkan.

Para kyai mulai membacakan Al Quran dari segala macam surat. Hana bergeming. Dia malah tersenyum mengejek. Seorang kyai membuka percakapan.

“Assalamualaikum”

“Hihihi. Waalaikumsalam, Pak Kyai. Sudah lama tidak ketemu.” Nada suaranya berubah menjadi seorang wanita tua.

“Siapa kamu? Mau apa kesini?

“Aku suka anak ini. Mau gimana pun kalian ngusir aku. Anak ini gak akan balik lagi. Anak ini sudah tiada.”

Ayah dan Bunda bagai disambar petir. “Hana.... Hana....Ini Bunda, Nak.” Bunda menangis meraung-raung. “Astagfirullah. Kembali sama Bunda, sayang.”

Pak kyai menghela napas panjang. Dia meminta ayah untuk membujuk agar jin ini keluar. Ayah memandang Bunda. Lama sekali. Dia mengusap air mata di wajah istrinya. “Doain Ayah, Bun.”

Ayah beringsut menuju tempat Hana sedang duduk. Hana memandang Ayah sambil cekikikan. Menyeramkan. Dia kembali mendendangkan sinden jawa.

“Neng. Ini Ayah. Sudah atuh jangan kaya gini terus. Ayah cape. Ayah kerja gak tenang. Banyak kerjaan belum beres harus Ayah bawa pulang. Di tempat kerja, Ayah teringat terus sama Neng. Kata Neng kalau ulang tahun ke-11 pengen diadain syukuran disini,kan.” Ayah menyeka air mata yang mengalir di wajahnya.

“Eneng mah sekarang sombong sama Ayah. Gak mau ngobrol lagi sama Ayah. Biasanya tiap berangkat sekolah pasti nyium pipi ayah. Di rumah sepi gak ada Neng. Walaupun badannya ada, tapi Ayah juga ngerasain kalau di rumah teh tanpa Neng. Neng teh kemana atuh Neng? Kemana?” Bahu Ayah terguncang-guncang.

Alunan tembang jawa mulai melemah. Hana menatap Ayah dengan tajam. “Percuma saja kau mencoba. Hihihi.”

“Ayah kangen pisan pengen dicium lagi sama Neng kaya waktu itu. Tiap Adzan, kalau Neng nangis, hati Ayah teh sakit Neng. Kalau emang Neng mau pergi, datang aja bentar kesini. Ayah pengen  denger suara Neng buat yang terakhir.” Ayah menggengam tangan Hana. Lalu memeluknya sambil terisak-isak. “Sebentar saja, Neng.”

“Arrggghhhhhhhh.............” Hana tiba-tiba menjerit keras sekali. Badannya kejang-kejang. Tak lama, dia pingsan. Para kyai mulai mengaji kembali. Sekitar setengah jam, Hana pun siuman. Dia diberikan air doa terus dibopong ke kamar. Semua warga disitu tidak berhenti mengucap Alhamdullilah. Ayah dan Bunda sujud syukur.

“Terimakasih Gusti Allah. Terimakasih telah mengabulkan doa kami.”

Patok kayu yang diduga menjadi tempat persembunyian jin tersebut, dibawa pulang oleh para kyai. Mereka akan menyimpannya di tempat yang aman. 

Ayah memeluk Hana dengan erat. "Ayah senang kamu kembali, Neng."

Seulas senyum menghiasi wajah Hana. Bibirnya lalu mengerucut. Bersiul.

Sebuah alunan nada tembang jawa mengalun pelan.

Tamat.

Cerita ini dibuat dalam rangka #memfiksikan. Kali ini temanya horor. Kisah di atas adalah kisah nyata yang dialami oleh salah seorang temanku di Line. Tentu saja aku sudah minta izin untuk meminjam kisahnya, dan melakukan perubahan sesuai gayaku.

Semoga cerita ini tetap dapat dikategorikan sebagai horor. Meskipun feel seramnya gak terlalu dapet kayaknya. Hahahaha.

Tenang saja. Ending di kehidupan nyatanya bahagia kok. Gak kayak di atas.

Gimana tanggapan kalian terhadap kisah di atas? Komentar dong. Kalau ada yang pernah ngalamin kisah horor juga, yuk ceritain ke kita.

Salam Asal.







Lanjut Baca Terus >>>

Wednesday, February 18, 2015

[Review Novel] Koala Kumal


Judul                      : Koala Kumal
Jenis Buku             : Komedi
Harga                     : Rp 65.500
Penerbit                 : Gagasmedia

Akhirnya Raditya nerbitin buku lagi !
Sejak buku Cinta Brontosaurus, aku mulai menyukai gaya tulisan Radit yang kocak tapi tetap penuh makna. Dan cara dia memberikan makna tersebut selalu bikin aku merasa, “Anjirr. Keren banget nih orang. Sunat dimana ya, dia?”

Ya, pokoknya gitu deh.

Cover buku ini unik banget. Radit udah kayak gembel yang kehilangan pegangan hidup disitu. Tapi, aku kurang suka cover bagian dalamnya. Tidak natural. Lihat saja, ketika berjalan, kaki kanan dan tangan kanan bergerak secara bersamaan. Cara berjalan yang aneh. 

Aneh, kan?

Tapi, pembatas bukunya lucu. Berbentuk koala yang lagi nenteng buntelan.

Coba bisa dipelihara,ya?

Bukunya kali ini mengambil tema tentang patah hati. Cocok banget dibaca orang yang lagi patah hati, sedang dalam proses move on, dan jomblo. Dan kalau kamu ngalamin ketiga hal itu, mending mati aja. Itu sakitnya kira-kira kayak jahitan sunat dilepas lagi.

Dalam pengantarnya, Radit berkata bahwa buku ini bisa dibaca mulai dari bab manapun. Karena tiap babnya emang gak nyambung satu sama lain. Kisahnya dipecah. Tapi, aku sih menyarankan untuk tetap membacanya mulai dari bab pertama. Karena di bab pertama, persoalan yang diceritakan masih ringan. Di bab pertengahan hingga akhir, mulai muncul deh cerita dengan konflik yang bikin hati berkecamuk, kegalauan bercampur tawa, dengan semua pelajaran hidupnya.

Gaya penulisannya masih memikat. Aku kira setelah dia lebih aktif main film dan menjadi juri stand-up comedy, gaya berceritanya juga akan berubah. Ternyata memang berubah. Berubah menjadi lebih asik dan lebih kocak. Ketika membacanya, aku merasa seperti membaca sebuah novel remaja, tapi memiliki sisipan humor yang berkelas.

Tidak lagi menggunakan punchline seperti, “Garuk-garuk aspal, nyilet-nyilet tangan” dan sejenisnya. Yang menurutku sudah mulai berkurang kadar lucunya, karena udah digunakan banyak orang.

Salah satu contoh komedi yang bikin aku terpingkal adalah ini :

Temannya tidak memberikan respons, mungkin tidak kedengaran, mungkin pura-pura gak dengar agar tidak dimarahin sama pengawas. Karena dicuekin, Lina lalu mulai mengayunkan kakinya, mencoba menendang pelan kursi di depannya. Tapi, percuma karena Lina pendek, kakinya mengayun-ayun, tidak sampai-sampai menendang kursi di depannya. Gue merasa kasihan, tetapi sekaligus ingin tertawa.
“Gue bantuin sini,” kata gue. “biar gue yang tendang.”
Gue mengayunkan kaki ke depan, mencoba menendang kursi depan, dan.... ternyata kaki gue juga gak nyampe. Gue lupa, gue juga pendek. Sekarang gantian Lina yang terlihat kasihan, tetapi sekaligus ingin tertawa.

Itu adalah cuplikan dari bab “Lebih Seram dari Jurit Malam”

Aku gak tau dengan kalian. Tapi menurutku itu humor yang sangat cerdas, dan juga lucu. Menertawai kehidupan tidak dengan cara yang berlebihan. Tapi dengan cara yang “memang-begitulah-dia”. Alami. Dan masih banyak lagi cerita yang lebih lucu dari ini.

Bab yang paling aku sukai disini adalah bab “Aku Bertemu Orang Lain”. Ini adalah cerita ketika dia masih berumur 18 tahun. Dan serius, bab ini lucunya bisa bikin pencernaan jadi lancar. Di bab ini, Radit menceritakan ketika dia mau pergi ke Adelaide untuk kuliah di sana, dan ceweknya galau abis. Radit sendiri gak yakin akan bertahan dengan LDR, dan dia mau mutusin ceweknya.

Tapi, gak jadi. Sesuatu hal membuat dia kembali yakin. Dan mereka pun menjalani LDR selama dua tahun. Sampai, di suatu malam yang merubah segalanya. Yaahh... mending kalian baca aja sendiri. Buat yang gampang mewek, silakan siapkan tisu. Karena bab-bab akhir emang menyentuh banget, tapi tetap bisa bikin ketawa. Membaca buku ini hampir membuat aku gila, bisa galau karena patah hati, dan detik berikutnya menertawakan kegalauan tersebut. 

Seperti yang dibilang oleh Mama Radit, 

Istilah untuk orang yang sudah pernah merasakan patah hati adalah.... dewasa

Jadi, sebelum gentayangan karena penasaran, mending beli bukunya langsung. Kalau udah beli, langsung fotocopy aja, jualin ke temen-temen. #OtakBisnisBajakan.
Apalagi buat kamu yang baru aja patah hati, buku ini bisa menjadi obat yang mujarab banget untuk mengobatinya. Lebih mujarab daripada kamu tetesin ekstrak rexona ke hati kamu.

Ratingku untuk novel ini adalah 4,9/5. Karena aku tetep gak demen cover dalamnya.

Sekian review novel hari ini. Kamu yang udah baca buku ini, yuk spoiler di kolom komentar, biar yang lain pada penasaran. Hahaha.


Salam Asal. 
Lanjut Baca Terus >>>

Saturday, February 14, 2015

Pahlawan Tanpa Tanda Rasa



Baru-baru ini aku bergabung di salah satu grup riddle horor. Setelah bergabung, banyak sekali keanehan di grup ini. Adminnya suka mengaku backpacker, membernya kebanyakan jomblo, tapi pembahasannya mantan. Aneh. Dan juga horor. Tapi, lumayan deh jadi ada temen ngobrol. Daripada gak ada sama sekali.

Akibat pembahasan yang terlalu sering mengenai mantan, flashback pun menyerang. Entah apa jadinya kalau flashback dan negara api bergabung menyatukan kekuatan. Serangannya pasti mengerikan. Serangan yang akan membuat avatar meminta bantuan hokage.

Sebenarnya aku bingung dengan banyaknya meme yang mengatakan bahwa mantan itu jahat, mengerikan dan bla bla lainnya. Kalau memang sejahat itu, ya ngapain juga jadian sama dia? Ngapain coba jadian sama penjahat. Mending jadian sama aku. (ps : kalimat itu cuma berlaku untuk cewek. Yang cowok pergi jauh-jauh)

Sadar atau tidak, mantan mengajarkan banyak sekali pengalaman hidup. Mungkin mantan ini di waktu dulu adalah seorang filsuf. Jadi dia pengen mengajarkan kebijakan hidup lewat kepahitan. Babik kali memang.

Aku pernah punya mantan yang mengajarkan arti cinta dalam kesederhanaan. Bahwa semangkuk bakso, sebotol sambal, pembicaraan yang menarik, dapat menjadi resep cinta. Tidak perlu mendengar omongan orang tentang hubungan yang sedang kami jalani. Toh, yang ngerasain kami. Sederhana. Sesederhana agama kami yang berbeda.

Aku dulu adalah seorang yang sangat tidak menyukai sayur. Entah mengapa. Melihat warnanya yang hijau-hijau sudah membuatku mengernyit. Apalagi mencicipinya. Sampai aku berjumpa dengan seseorang. Seseorang yang selalu bersikeras supaya aku makan sayur. Tentu saja awalnya aku menolak. Tapi, lama kelamaan kucoba juga. Pertama cuma sedikit. Hmmm. Ternyata lumayan juga. Akhirnya aku mulai menyukai sayur. Bukankah cinta itu ajaib?

Meskipun itu tidak membuatku jadi penggila sayur, setidaknya sekarang aku bisa memandang sayur dari perspektif yang lebih baik. Dulu sayuran yang kukenal cuma kangkung dan bayam, sekarang yaa ada beberapa deh yang nambah. Orang yang jatuh cinta emang cenderung melakukan hal konyol untuk menyenangkan hati pasangannya.

Pernah juga ada mantan yang mengajarkan, bahwa jatuh cinta terlalu cepat itu tidak salah. Yang salah adalah pergi terlalu cepat. Apalagi perginya pake kata-kata “aku gak mau menyakiti kamu lebih lagi”. Bullshit. Kau pergi itu udah nyakitin, nyet. Eh, ini aku kok malah ngehina mantan? duh, Maaf...maaf.

Ada lagi yang mengajarkan, bahwa persamaan agama tidak seterusnya dapat menyatukan. Karena aku kebanyakan pacaran dengan yang beda agama, mendapatkan seorang yang cocok, agama sama, dan di umur segini, rasanya adalah berkah. Mungkin aku yang menganggapnya berkah. Karena dia menganggap tidak. Persamaan justru membuat goyah. Entahlah, mungkin karena perjuangannya tidak seberat yang beda agama. Jadi, bisa diakhiri begitu saja. Tanpa ada usaha lebih lanjut.

Ada juga mantan yang mengajarkan, bahwa suatu hubungan tidak akan bertahan lama jika dimulai dengan kebohongan. Sekecil apapun itu. Suatu kebohongan menimbulkan efek seperti bola salju. Lama-lama menjadi besar. Sehingga jika terbongkar, banyak penyesalan, sakit hati, dan air mata. Jadi, jujur ajalah. Meskipun itu berat. Pengakuan bahwa kamu dulu adalah seorang ladyboy, tidak akan mengubah cinta cowokmu.

Pernah juga aku pacaran sama orang yang gemar main TTS. Aku dulu gak ngerti apa asiknya main ginian. Ngisi kolom dan baris kosong dengan kata-kata. Kurang kerjaan. Mending juga ngisi hati kamu. Tapi, seperti yang aku udah bilang tadi, orang yang jatuh cinta akan melakukan hal konyol demi pasangannya. Jadi, kami pun bermain tts, saling bertukar pendapat, berpikir keras jika ada jawaban yang kami tidak tau, dan bersorak girang jika berhasil menamatkan keseluruhan TTS. Pacaran kami benar-benar pacaran yang cerdas. Sekarang, walaupun kami sudah putus, aku kadang masih suka ngisi TTS di waktu luang.

Intinya dari semua pengalaman itu adalah, tidak usah menjelekkan mantan secara berlebihan. Mereka pernah hadir, untuk mengajarkan sesuatu. Ketimbang lebih banyak galaunya, mending buat daftar kebaikan apa saja yang mereka lakukan di hidupmu. Mereka bahkan bisa merangsang keinginan kalian untuk menulis. Seperti yang kualami sekarang ini.

Jadi, di tanggal 14 Februari ini, marilah kita mengheningkan cipta sejenak. Mengenang jasa-jasa para mantan yang telah gugur di medan asmara. Kita sematkan mereka penghargaan khusus. PAHLAWAN TANPA TANDA RASA.

Jangan mengenang mereka dengan rasa. Karena cuma bikin makan ati. Kenanglah dengan senyuman. Senyuman getir.

Well, itulah ceritaku mengenai mantan. Agak nyess memang membahasnya. Karena membuka luka lama. Tapi, tak apalah.

Kalau kalian gimana? Pernah mendapat pelajaran hidup apa dari mantan? Yuk ceritain di kolom komentar.


Salam Asal. 
Lanjut Baca Terus >>>

Friday, February 13, 2015

Menanti

Detik merayap pelan
Mendesis mengganggu
Merambat perlahan
Menuju tulang belakang

Kopi masih mengepul

Kerumunan memudar
Luntur oleh kuas sang waktu
Aku masih bertahan
Percaya janjimu

Kopi tak tersentuh

Angin malam berbisik
Mencoba menggoyahkan yakin
Bahkan, Sang Kopi mulai lelah
“Pulanglah, Nak”

Cahaya Sang Kopi tenggelam
Kabutnya menghilang
Menyisakan dingin
Sekaligus pedih

Asa berubah hambar
“Ah. Semuanya sia-sia”


Jujur. Aku nggak begitu pinter merangkai kata membuat puisi kayak gini. Ya, tapi dicoba aja deh. Hahaha. Silakan komentar sejujur mungkin tentang puisi ini, ya. Oh ya, aku membuat puisi ini dalam rangka #memfiksikan. Temanya hari ini adalah kopi. Semoga semua suka.


Salam Asal
Lanjut Baca Terus >>>

Sunday, February 8, 2015

[KONSULTASAL] Benci atau Cinta?


Gak terasa tahun 2015 udah memasuki bulan kedua. Bulan Februari. Bulan mistis bagi para jomblo. Karena di bulan ini ada Hari Valentine. Apalagi Valentine kali ini pas banget jatuh di malam minggu. Sempurnalah penderitaan jomblo.

Tapi, tak apalah. Biarkan mereka bersenang-senang di hari tersebut. Dan mari kita berkejang-kejang.

Skip soal Valentine.

Seperti biasa, tiap bulan ada segmen khusus curhat-curhatan di blog ini. Dan pasienku semakin membludak aja. Kira-kira kalau aku buat tarif khusus, mereka masih mau curhat gak ya? Hmm. #OtakBisnis.

Penasaran dengan kasus kali ini? Silakan dibaca curhatannya.

Hai Bang Ar.. namaku Candy. Ngeliat orang2 pada curhat, aku jadi pengen ikutan nih.. boleh gak ?  Oke makasih..
Jadi gini .. aku gak mau curhat tentang cinta kok, Bang. Aku disini mau curhat tentang temen sekelas yang nyebelin. Sebut saja namanya Jay. Awal awal masuk di kelas 11, Jay itu minta pin bb aku . Belum sempet dikasih, temen sekelas kompak banget teriak "ciyeeeeeee". Akhirnya, aku gak jadi kasih pin gara-gara itu.

Semenjak itu, kalau kita berdua berpapasan, kelompokan jadi canggung banget. Jadi berasa risih. Kenapa ?? Karena setiap deket dikit temen sekelas itu bilang ciye ciye.. Padahal aku sama dia juga gak ada rasa apa-apa. Dan entah kenapa sampe sekarang aku sama Jay gak pernah akur atau akrab kaya temen lainnya.. Pernah sih akrab, itupun kalau lagi ulangan aja. Kebetulan aku sama Jay nomor absennya berurutan.

Padahal aku sebenernya pengen akrab sama dia. Tapi apa daya?? Jay terlihat dingin sama aku. Karena sifatnya itu sekarang aku agak benci sama dia. Jay itu punya geng. Segengnya itu nyebelin semua. Suka bully bully orang gitu. Tapi kalau geng kunyuk mereka lagi butuh bantuan, baru deh sok sok baik sama kami semua. Tapi entah kenapa kalau satu kali aja dia minta bantuan sama aku, aku gabisa gak bantu. Pasti selalu aku bantu.

Padahal kalo dia lagi nyebelin dalam hati mah bilang "awas aja gak bakal aku kasih bantuan lagi". Pada akhirnya tetep aku bantu juga. Itu kenapa ya? Minta solusinya deh gimana caranya untuk gak benci sama dia dan bisa bersikap biasa aja sama dia. Karena aku juga berasa risih kan kalo ada temen satu kelas tapi cuek-cuekkan dan kayak gak kenal satu sama lain. Sedih juga sih rasanya kalo dia itu kayak gak nganggep aku ada dikelas. Abisnya dia kalo di kelas gak pernah tanya apapun sama aku. Fufufu.
Mohon solusinya ya, Bang.

Hai Candy. Boleh kok curhat. Boleh banget malah.

Jadi kamu menganggap Jay ini adalah orang yang nyebelin? Saranku sih, hati-hati aja ya. Karena biasanya orang yang kita anggap nyebelin, malah berakhir jadi orang yang kita sayang. Yaaa, setidaknya di FTV sih gitu. Kalau dia emang nyebelin, walaupun gak diciein, harusnya kamu gak ngasih pin bb juga kan? Ngapain juga. Tapi entah kenapa, aku menangkap pesan, kalau gak diciein, kamu bakal ngasih pin bb itu. Sekarang kamu masih yakin dia senyebelin itu?

Kalau gak ada rasa apa-apa, kenapa juga kalian malah jadi canggung? Harusnya biasa aja dong kalau diciein. Sama kayak  sepatu baru yang diciein, paling dipijak doang. Udah kelar. Atau kalian jadi canggung karena menunggu dipijak juga? *angkat sepatu* *bersiap memijak* *lalu gangnam style*

Satu kode dari alam sudah muncul. Nama absen yang berurutan. Ini sebenarnya kode alam. Coba deh nomor absen kamu dan Jay, kamu masukin ke nomor togel. Empat nomor. Kali aja menang. Kamu bisa kaya. Yaa, kalau udah kaya, inget-inget aku ya. Hahaha.

Tau gak. Kamu itu terlalu mengingkari perasaan kayaknya. Di awal kamu bilang kalau Jay itu nyebelin. Eh ternyata, kamu malah pengen akur dan akrab sama dia. Hayooo. Ada apa ini? Biasanya orang yang dianggap nyebelin itu kan dijauhin. Kamu malah berbeda. Yakin dia emang nyebelin?

Bukti lainnya adalah. Kamu gak bisa menolak permintaan dari dia. Aku punya teman, yang selalu mau melakukan apapun yang disuruh gebetannya. Rada kasian sih ngeliat dia. Tapi dia selalu beralasan, “Beginilah caraku mencintainya.” Preeettt. Cinta gak akan menjadikanmu babu juga kali.

Sama kayak kamu. Walaupun udah buat seribu janji di dalam hati kalau kamu gak bakal nolong dia. Tetep aja kan kamu tolongin juga. Kalau dia nyebelin, harusnya dengan gampang dong kamu tolak permintaannya. Malah kalau bisa kamu bilang, “Kerjain sendiri dong. Makanya otak itu dipake, tangan itu digunain, jangan dianggurin. Cukup hati aja yang dianggurin.” Tsaahh.

Lalu kamu berlalu. Sadis. Kejam. Tak berperikemanusiaan. Tapi keren. Itulah yang harusnya kamu lakukan, kalau memang dia menyebalkan. Tapi, apakah kamu yakin kalau dia emang nyebelin?

Bukti yang terakhir adalah, kamu sedih kalau dia gak nganggep kamu di kelas. Kamu sedih kalau dia gak nanya apa-apa sama kamu. Kalau dia emang nyebelin, ya kalau dia gak nganggep kamu...so what? Kamu juga bisa gak nganggep dia. Kenapa harus sedih? Bukankah kamu seharusnya senang kalau dia malah gak berkomunikasi dengan kamu?
Sekali lagi deh aku tanya, apa dia emang nyebelin? Atau sebenarnya kamu salah mengartikan kata “nyebelin” dengan “nyenengin”?

Di ilmu komunikasi, ada satu teori klasik yang namanya teori AIDDA. Kalau mau tau lebih lanjut, masuk ilmu komunikasi ya. Intinya adalah, rasa benci dan cinta itu tipis banget. Setipis kolor tetangga yang sobek disana-sini.

Cinta dan benci itu berawal dari perhatian. Kamu memperhatikannya karena ada sesuatu yang menarik dari dirinya. Entah hal yang menarik itu malah membuatmu menjadi cinta atau benci. Yang membatasinya hanyalah keinginan. Keinginan untuk tetap membencinya, tetap mencintainya, atau berubah dari cinta ke benci atau benci ke cinta. Ribet ya? Hahaha.

Contoh simpel perubahannya adalah, seseorang yang dulu berpacaran pasti dong saling mencintai. Tapi pas mereka putus, mereka bisa tetap saling mencintai, atau malah berubah saling membenci. Secepat itulah perasaan berubah.

Lalu apa hubungannya dengan masalahmu? Enggak ada sih sebenarnya. Aku cuma bahas teori itu karena tiba-tiba teringat dengan kolor tetangga aja. Mana mungkinnnn....kolor tetanggaaa.. hangatkan dirikuu... *nyanyi pake centongan nasi*

Solusi untuk kamu, Candy. Mulailah percakapan dengan dia. Gak usah deh takut diciein. Jaman sekarang, hidup gak lengkap tanpa ada cie dari temen-temen. Mulailah dengan percakapan basa-basi, percakapan ringan. Dan kalau udah semakin nyaman, mungkin kamu bisa kasih pin bb kamu. Yaa, setelah itu menjadi urusan kalian. Hehe.

Dan kayaknya harus kamu deh yang memulai obrolan duluan. Karena Jay kayaknya udah grogi kalau diciein.

Selamat mencoba ya, Candy.

Buat yang lain, kasih saran juga dong untuk Candy gimana caranya menghadapi tingkah Jay yang katanya sih “nyebelin”. Katanyaaaa.

Kalau kamu-kamu pernah ngalamin kejadian kayak gini juga, silakan berbagi di kolom komentar ya. Yang mau ikutan KONSULTASAL, silakan kirim saja curhatanmu ke azeegha@gmail.com dengan subjek KONSULTASAL.

Demikianlah, KONSULTASAL hari ini. Semoga semua terhibur.

Salam Asal.
Lanjut Baca Terus >>>

Kutukan Cinta

Kadang aku tidak mengerti dengan cinta. Datang cepat, memanah hati, terikat asmara. Dan secepat dia datang, bisa juga secepat itu dia pergi. Hanya meninggalkan luka menganga bekas panah. Ketika sedang merasa nyaman, disaat itulah cinta perlahan pergi. Berjingkat-jingkat bagai pencuri. Membawa pergi separuh hati.

Aku juga tidak mengerti dengan perbedaan agama dalam asmara. Mengapa harus ada perbedaan. Entah kenapa, kalau aku menjalin hubungan dengan mereka yang berbeda agama, hubungannya bisa bertahan lama. Sama-sama saling meyakinkan, saling menyemangati. Berbisik bahwa semuanya akan baik-baik saja. Meski aku tau, bahwa endingnya pasti tidak akan baik-baik saja. Tapi, usaha selalu ada untuk terus bersama.

Giliran aku dapat yang beragama sama, pasti hubungannya singkat. Tidak ada usaha untuk bertahan. Terlalu cepat menyerah akan keadaan. Membiarkan pasangannya berjuang sendirian. Apakah karena tidak ada tembok pemisah, justru membuat cinta itu terlalu gampang untuk dilepas? Apakah karena kita “sama”, justru tidak ada alasan untuk bertahan? Aku berpikir, sepertinya memang perbedaanlah yang menyatukan kita. Bukan persamaan.

Tapi yang paling aku tidak mengerti adalah, mengapa aku selalu berhubungan dengan mereka yang gagal move on pada mantannya? Pada hubungan pertama dan kedua sepertinya masih wajar dan normal. Tapi, di hubungan berikutnya, ini mulai ganjil. Membentuk pola menakutkan. Apa ini karma, karena aku diam-diam menyantet bisul mantan mereka? Hmm.

Sangat wajar untuk mengalami rasa sakit hati dalam hubungan asmara. Mustahil sebuah hubungan berjalan tanpa adanya konflik, pertengkaran, air mata dan tangis. Tapi, bukankah itu guna pelukan menenangkan? Bukankah itu gunanya mulut, supaya bisa mengatakan kalimat penghiburan. Takut sakit hati bukanlah alasan untuk tidak jatuh cinta. Takut sakit hati hanyalah alasan pengecut bagi mereka yang tidak mau girang hati. Meskipun aku lebih memilih tante girang, sih.

Percayalah, cinta tidak mengajarkan ketakutan. Cinta mengajarkan kekuatan. Kekuatan untuk sembuh dari sakit hati. Kekuatan untuk saling mendukung. Kekuatan untuk bersama dengan orang yang lebih baik.

Ah, tapi sudahlah. Tau apa juga aku soal cinta. Aku hanya seorang pengelana hati yang terlalu sering mencicip asam, asin, pahit ketimbang manis. Aneh rasanya ketika seorang jomblo berbicara cinta, bukankah begitu?

Semoga kalian semua segera menemukan cinta sejati.

Salam Asal


Lanjut Baca Terus >>>