Thursday, July 9, 2015

[CERPEN] Cinta Apa Adanya

BUG.

Niko jatuh tersungkur. Bibirnya mengeluarkan darah segar. “Bajingan,” umpatnya. Dia lalu bangkit dan berusaha menerjang Ryan.

Tinju dan tangkisan saling beradu. Kedua cowok itu bergulat di atas tanah. Pakaian mereka sudah lusuh dan sobek. Tapi, mereka sepertinya tidak memedulikan hal itu. Yang mereka pedulikan adalah bagaimana lawannya bisa terkapar.

Tasya hanya berdiri mematung. Dia bingung akan membela yang mana. Dia juga tau tak ada gunanya memanggil bantuan. Semua murid sudah pulang. Yang tersisa hanyalah Pak Ahmad, satpam sekolah yang sudah tua.

Tasya mengepalkan kedua tangannya. Dengan suara yang bergetar dia berteriak... “CUKUUUPP !!”

***
“Eh liat tuh. Anak baru kayaknya.”

“Anjir. Cakep abis. Blasteran nih.”

“Blasteran Jepang-Belanda pasti.”

“Lah. Penjajah dong. Tapi gapapa. Rela deh hati gua dijajah sama dia.”

“Tinggi, cakep, montok lagi. Anjir.”

“Semoga dia masuk ke kelas kita. Aminnn aminnn.”

“Pssstt. Sombong amat, Neng. Lihat kita dong.”

Bisik-bisik dan godaan terus terdengar di sepanjang lorong. Tasya berjalan cepat-cepat sambil menundukkan kepalanya. Dia tidak terlalu suka berada di keramaian. Apalagi dibicarakan seperti sekarang.

***

“Anak-anak. Perkenalkan, ini adalah Tasya Lutfiah. Murid pindahan dari Medan. Tolong bantu dia beradaptasi, ya.” Pak Dion lalu menunjuk bangku kedua dari barisan ketiga. “Kamu duduk disitu ya !”

Tasya mengangguk pelan. Lalu beranjak ke bangkunya. Dia memandang sekeliling dan tersenyum ramah. Anak-anak cowok kebanyakan langsung bertingkah bodoh begitu terkena senyumnya. Ada yang nari saman, ada yang berlagak seperti Agung Hercules, ada juga yang mesem-mesem sambil tangannya maju mundur di bawah meja.

Yang cewek berlagak bloon dan pura-pura gak liat. Mungkin merasa tersaingi.

***

Bel istirahat berbunyi. Niko melihat Ryan sedang ngobrol dengan si anak baru. Sialan. Bagian gua diembat.

Dengan langkah-langkah panjang, Niko menginterupsi obrolan mereka.

“Hai Tasya. Kenalin, gua Niko. Cowok paling ganteng di kelas ini.” Niko menyisir rambutnya ke belakang. Berusaha terlihat maskulin. Meski lebih mirip Mas Kuli.

Tasya tersenyum. “Tasya. Salam kenal juga.”

“Ke kantin yuk, Sya. Disini hawanya sumpek.” Tanpa babibu Ryan menarik tangan Tasya. Setengah bingung, Tasya ikut berdiri mengikuti Ryan. Niko yang belum puas ngegombal, ikut-ikutan menarik tangan Tasya yang satunya. Alhasil, Tasya sudah seperti tali tambang. Ditarik kesana kemari.

“Aduh..sakit,” jerit Tasya. Dia merasa kedua tangannya memanjang satu meter.
Niko buru-buru melepas tarikannya. Tasya malah terpental ke pelukan Ryan. Mereka berdua terjatuh. Ryan mendekap Tasya. Berusaha melindunginya. Pipi Tasya bersemu merah.

“Heh kampret. Elo ngambil kesempatan dalam kesempitan ya. Dasar mesum.” Tiba-tiba tinju Niko sudah mendarat di rahang Ryan. Tasya menjerit karena kaget. Cewek-cewek lain histeris. Yang cowok berusaha memisahkan Niko dan Ryan.

Ryan memandang Tasya sekilas lalu menatap Niko dengan dingin. Dikebaskannya genggaman teman-temannya yang memegangi dia. Dengan santai didekatinya Niko dan berbisik di telinganya, “Urusan ini belum selesai. Kita lanjutkan di halaman belakang sepulang sekolah.” Lalu dia tersenyum kepada Tasya dan melenggang santai keluar kelas.

***

Tasya merasa tidak enak. Dia menganggap perkelahian tadi disebabkan oleh dirinya. Maka dia pun menguntit mereka berdua ke lapangan sepulang sekolah.
Samar-samar dia mendengar pembicaraan mereka.

“Kalau gua bisa ngalahin lo, Tasya jadi milik gua. Jangan ikut campur lagi.”

“Deal. Dan hal sebaliknya berlaku untuk elu.”

“Deal.”

Ryan dan Niko lalu berkelahi dengan seru. Jurus-jurus andalan seperti “tokek menapak angin” dan “mama minta pulsa” dikeluarkan. Mereka berdua memang jago beladiri. Saking jagonya, mereka diikutkan dalam olimpiade baca puisi.

HIATT.... CIATT... CIAT... BAG..BUG...

Tasya cuma bisa menyaksikan. Dia bingung kenapa mereka bertingkah seperti pemain sinetron. Mereka bahkan gak bertanya apakah Tasya menyukai mereka atau tidak.
Tasya mengepalkan kedua tangannya. Dengan suara yang bergetar dia berteriak... 

“CUKUUUPP !!”

Niko dan Ryan membeku. Pukulan mereka kaku di udara. Nyaris mengenai biji mata lawan masing-masing.

“Kenapa kalian saling berkelahi demi memperebutkan aku? Kalian bahkan baru melihatku hari ini.” Tasya bertanya dengan bahu yang naik turun. Dia terisak-isak.

“Aku sudah menyukaimu sejak pertama melihatmu, Sya,” ucap Ryan lembut. “Aku yakin kamu diciptakan untukku.”

“Behh. Omong kosong. Jelas-jelas dia diciptakan untukku. Dia adalah tulang rusuk yang selama ini aku cari.” Niko menyanggah.

“Tulang rusuk lo udah lama hilang digondol anjing,” sindir Ryan.

Tasya menatap mereka berdua tidak percaya. “Kalian egois ! Kalian bahkan tidak peduli apakah aku menyukai kalian atau tidak !”

Niko dan Ryan diam membatu sambil menatap satu sama lain.

“Aku yakin, kalian bahkan tidak bisa menerima aku apa adanya.”

“AKU BISA.” Niko mengacung cepat-cepat. Dia tersenyum pongah kepada Ryan.

“Aku juga akan menerima kamu apa adanya, Sya.” Ryan tak mau kalah. 

Tasya diam sambil menunduk. Dia berbisik pelan, “Tidak..kalian tidak bisa.”

Ryan maju ke arah Tasya. Lalu memeluknya. “Yakinlah, Sya. I love you just the way you are.”

Tasya menatap mata Ryan lekat-lekat. Matanya berbinar-binar. Ada secercah harapan disitu.

 “Benarkah? Bahkan kalau aku seorang transgender?”

Niko dan Ryan terkejut. “A-apa maksudmu, Sya?” tanya Ryan.

“Kamu pasti becanda kan?” tambah Niko.

Tasya menggeleng pelan.

“Aku bisa membuktikannya pada kalian.”

Dia membuka kancing bajunya, sehingga tinggal bra. Bra yang menutupi segumpalan daging.

Napas Ryan dan Niko memburu. Ini sudah seperti pertunjukan striptease, pikir mereka. Celana mereka mendadak sempit. Ada yang berontak.

Tasya membuka roknya, menyisakan celana dalam.

Gleg.

Niko dan Ryan menelan ludah. Berani banget ni anak setengah telanjang di lapangan seperti ini.

Namun ada yang aneh. Celana dalam tersebut terlihat membalut sesuatu yang menonjol. Menonjol seperti...

Niko dan Ryan memandang satu sama lain. Mereka mulai saling mendorong dan mengatakan,

 “Tasya untuk lo aja deh. Terima dia apa adanya dong.” “Untuk lo aja, dia kan tulang rusuk lo.”

Mereka terus melakukan itu sambil berjalan. Akhirnya mereka menghilang di ujung lapangan. Meninggalkan Tasya sendirian.

Tasya menyunggingkan senyum tipis sambil memakai pakainnya kembali.



Ahh. Cinta. Begitu mudah diucapkan. Begitu mudah mengatakan penerimaan apa adanya. Namun, kebanyakan dusta.

Ada untungnya juga aku meminjam pisang ini dari kantin tadi.

Hari-hariku bakal lebih damai setelah ini.

-Tamat-



Rada absurd ya ceritanya? Hahaha. Udah lama nih gak bikin fiksi. Semoga kalian suka. Kritik dan saran sangat dinantikan. Supaya aku bisa membuat karya yang lebih baik lagi. Pesan moral dari cerpen ini, jangan terlalu cepat mengatakan kamu bisa menerima seseorang apa adanya. Bisa jadi itu semua akan berubah ketika kamu mengetahui siapa dirinya sebenarnya.

Sekian untuk hari ini.

Salam Asal.


39 comments:

  1. Bhak. Nama gue. Bhak ceritanya. Yauda deh hahahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha. makasih ya udah diijinin pake namanya

      Delete
  2. Anjir Armaaaaannnn. Ending-nya kampret abis. Buahahaha. Mantaapsss. :))))

    Tapi keren, loh. Ada twist di dalam twist. Jadi kangen #memfiksikan nih gue. Imajinasi gue akan tulisan fiksi jadi cupu. Harus belajar banyak dari Arman. :(

    Nggak mau komen tentang cinta apa adanya. Males ngomongin cinta. Wakakaka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. behh. saling belajar aja deh. lo sama Haw juga keren banget kalo bikin fiksi.

      kebanyakan nyakitin sih elu. makanya gak mau ngomongin cinta

      Delete
    2. Hehe, yok sama-sama belajar lagi, lah. :D

      Kampret! Kesalahan di masa lalu, ya udahlah. :(

      Delete
  3. haha :D endingnya bikin gue senyum-senyum sendiri.. Aaaaaakssss, seru-seru :D

    ReplyDelete
  4. awalnya agak serius. Terakhirnya bikin ketawa. Bang, jangan2 lo juga transgender. Ambil pisang dri kantin sekolah.

    ReplyDelete
  5. awalnya dalam hati gue gini "wah bisa nambah pengetahuan juga tentang cinta", setelah gue baca dengan serius dan nikmat...... eh ending nya itu lhoo yang gaa bisa gue tahan :D sumpah lucu bangeeeet :D gue kirain itu beneran ternyata cuman ngetes doang (tapi bagus juga caranya , jadi tau siapa orang yang bener2 nerima kita apa adanya) ;D hahaha wakakakakassssssss aaaaaks, lucu beneran dah :D :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. mau dipraktekin? aku mau loh bantuin masang pisangnya. *eh

      Delete
  6. Cerpen macam apa ini?
    keren, bang. Suka sama humornya. Lanjutkan.
    Kirain beneran transgander, ternyata itu pisang-pisangan. keenakan Tasya, dong. Ada pisang yang nyempil disitu. :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. eh iya juga ya. hahaha. baru nyadar. pisangnya juga keenakan tuh.

      Delete
  7. Gak ada kritik bagus cerpennya, tapi rada jengkel aja kok pesan moralnya dikasih tahu, jadi gua rada merasa kayak murid gitu dan elo seolah-olah guru bahasa Indonesia, hehehe, biarkan cerpen apa adanya... hehehehehehe :) keren bro!

    ReplyDelete
  8. Gue bacanya nangis.. ini pecah avis komvor gas pokoknya.

    ReplyDelete
  9. Hauahaha ngakak gue bacanya
    itu ending'a pake adegan strip segala :v

    ReplyDelete
  10. gue salut sama pesan moralnya...

    ReplyDelete
  11. Ini mah kayak judul lagunya dhyo haw ya.. hehe

    ReplyDelete
  12. iyah ngebayangin adegan berantemnya.... itu jurusnya keren yak

    ReplyDelete
    Replies
    1. wooh jelas dong. iyah mau diajarin? aku tau loh

      Delete
  13. Anjrit endingnya kampret banget. Ada pesan moralnya lagi. Keren! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. emang cerpen lain gak ada pesan moralnya ya?

      Delete
  14. Syeeeetaaann. Hahahaha. Ceritanya keren, Ga. Sempat pikiran gue mengatakan bahwa kalau tasya itu jangan-jangan adalah elu sendiri. Gue sih agak ragu tapi sedikit yakin. Ya, begitu lah. Ngomongin cerpennya gue sukak! Beberapa kali bikin ngakak sendiri- Iya, ngakak ngebayangin si Tasya itu elu.#kabur

    ReplyDelete
    Replies
    1. lah si kampret -_-. elu kate gua jadi transg juga? kurang ajaarr.
      elu tuh diem-diem napsu sebenarnya kan

      Delete
  15. Akhir dari cinta tuh memang selalu nggak bisa ditebak ya. Ceritanya agak absurd sih, tapi seru kok! :)) Ceritanya lumayan bikin gue sebagai kaum cewek jadi mikir lagi buat dengerin omongan orang yang belom apa-apa udah bilang 'aku mau nerima kamu apa adanya'. Keren-keren! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya. soalnya jaman sekarang udah makin banyak aja buaya lepas dari kandang. jadi kudu hati-hati kak

      Delete
  16. untung pinjem pisang dari kantin yah :D

    ReplyDelete
  17. Anjir, sumpah, endingnya bener-bener nggak ketebak tau gak! Awalnya aku kaget pas tau Tasya itu transgender. Eh, nyatanya pura-pura. Keren ceritanya!

    ReplyDelete
  18. Bisa gitu ya ending'a. Haha keren.

    ReplyDelete
  19. Aku masih polos bang :( *kunjungan ane yang udh gatau keberapa lagi. Haha

    ReplyDelete

Berkomentarlah sebelum berkomentar itu diharamkan